Aku menemukan Mopi saat dia setengah hidup dan
setengah mati di pinggir rel dekat gerbong kereta. Bulunya habis dan kulitnya
hampir terlihat. Banyak kudis dan luka-luka kecil menempel di tubuhnya.
Lidahnya menjulur sedikit. Matanya sudah tidak sanggup untuk terbuka. Badannya kurus dan kumal. Tak ada yang
memperhatikan, lantaran di daerah situ memang tidak banyak orang lewat. Aku
yang melihatnya merasa iba. Lalu aku mendekatinya. Saat kuangkat tubuhnya
dengan menggunakan sarung tangan dan memasukkannya ke dalam kotak, kudengar
suara aingnya yang sangat pilu.
Mopi
kubawa pulang ke rumah. Dia aku rawat sampai benar-benar sehat. Beberapa kali
aku membawanya ke dokter hewan. Aku bersyukur ketika keadaannya cukup membaik. Saat
aku temukan Mopi, dia masih berusia enam bulan.
Tapi
aku tidak pernah menganggap Mopi sebagai anakku. Dia aku jadikan sahabat dalam
keseharianku. Tingkahnya cukup lucu. Tapi aku tidak suka bila Mopi mencoba
untuk bermanja padaku saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Bila dia
mendekat ruang kerjaku, maka aku akan menyuruhnya untuk keluar dan pergi tidur.
Dalam
beberapa hari Mopi belum paham dengan perintah-perintah seriusku. Dia masih
saja mencoba untuk medekati ruang kerjaku dan duduk di sampingku. Aku tidak
suka ada seorang pun yang mencoba untuk menemani kesibukanku, apa lagi binatang
seperti dia, sekalipun dia hanya duduk dengan tenang di dekatku.
Pernah
suatu ketika, Mopi mengulang kesalahan yang sama. Dia datang menemuiku di dalam
ruang kerjaku yang tak berpintu. Dia menyalak dengan kuat. Seakan menyuruhku
untuk keluar dan bermain dengannya. Disaat itu pula emosiku naik. Tanpa perduli
siapa yang telah mengganggu keseriusan kerjaku, aku langsung mengambil asbak
rokok dan melemparkannya ke kepala Mopi sampai asbaknya pecah dan kepalanya
berdarah.
Mopi
mengaing pelan. Kesakitan. Bebanku semakin bertambah. Aku tidak mungkin
membiarkan kepalanya yang telah bocor karena perbuatan kasarku. Lalu aku
meninggalkan pekerjaanku untuk beberapa menit. Aku mengajak Mopi ke belakang. Di
dalam lemari dapur aku mengambil kotak obat. Aku membersihkan darah Mopi dan
memberinya alkohol pada lukanya. Aku memperban. Setelah itu kuajak Mopi ke
ranjang tidur yang telah aku siapkan untuknya. Aku menyuruhnya untuk tidur di
situ dan mengatakan padanya agar tidak
mengganggu kerjaku lagi.
Aku
pikir Mopi paham maksudku. Setelah dia cukup tenang, aku meninggalkannya dan
kembali lagi ke ruang kerja. Dan kuharap Mopi tidak datang lagi padaku. Apa
yang kulakukan di dalam ruang kerjaku sampai aku tidak ingin diganggu oleh
siapa pun? Aku seorang penulis lepas. Saat mengetik dan menuangkan ide-ide
tulisanku, aku tidak ingin ada yang menggangguku. Konsentrasiku akan buyar, dan
aku akan benar-benar sangat marah.
Mopi
tidak menyalak atau mengaing saat aku kembali kerja. Suasana cukup sepi. Saat
aku benar-benar lelah dan ingin istirahat, aku menunda tulisanku yang belum
siap. Aku ingin keluar dan mencoba relex. Aku terkejut, saat aku akan keluar
dari pintu yang tak berdaun, kutemukan Mopi sedang duduk sambil bertidur malas
di sisi pintu. Melihat kedatanganku, dia langsung berdiri dan mengendus-endus
kakiku. Tubuhnya yang masih kecil mengelilingi tubuhku. Sepertinya dia lupa
dengan sakit yang ada di kepalanya dan ingin sekali mengajak aku untuk bermain.
Oh,
Mopi. Aku tidak tega membiarkannya berharap sampai berlarut. Apa lagi aku telah
menyakitinya dan dia masih tetap menunggu aku. Lalu aku ajak dia keluar rumah. Aku
bawa dia pergi berjalan-jalan ke pasar dan beberapa toko. Beberapa orang yang
telah mengenal Mopi tidak jarang menyapanya. Mopi hanya bisa membalas dengan
aingannya yang kecil. Ekornya yang kecil dan panjang tidak berhenti bergoyang. Itu
pertanda bahwa dia sangat senang sekali aku ajak bermain. Sebab bila dia lagi
murung atau sedih, ekor itu tidak akan pernah bergoyang sama sekali, dan Mopi
akan selalu jalan dengan agak menunduk.
Sejak
kejadian itu, Mopi paham akan ketidaksukaanku bila aku sedang berada di dalam
ruang kerja. Dia selalu aku suruh untuk tidur saja bila aku memulai aktivitas
sibukku. Awalnya Mopi nurut aku ajak masuk ke dalam ranjang kecilnya. Namun,
setiap kali aku akan keluar dari ruang kerjaku untuk merilekskan pikiranku, aku
akan selalu menemukan Mopi duduk sambil bertidur malas di tepi pintu yang tidak
berdaun. Setiap kali melihat kedatanganku, dia akan bangun dan ekor kecilnya
akan bergoyang-goyang. Mulutnya lalu mengendus-endus kakiku.
*****
Mopi
sudah besar. Sudah tiga tahun dia hidup bersamaku. Kondisinya jauh sangat sehat
dibanding pertama kali aku menemukannya di dekat gerbong. Dia manja dan sangat
ingin sekali selalu aku perhatikan. Tapi dia tidak bisa memaksaku saat aku
sedang sibuk. Mopi akan tampak iri bila aku sedang bermain dengan anakku yang
baru berusia delapan bulan. Mopi akan pergi menjauh. Dia bersembunyi di dalam
ranjang tidurnya yang telah aku buat lebih besar sesuai ukuran besar tubuhnya
saat ini. Dari celah-celah ranjang itu mata Mopi mengintip aku dan pangeran
kecilku.
Aku
masih tetap berlaku adil antara istriku, anakku, dan Mopi. Bila aku ingin
istirahat dari selepas kerjaku di dalam ruang kerja, aku akan selalu mengajak
Mopi untuk pergi jalan-jalan. Ya, masih seperti dulu. Sekalipun Mopi sudah
menjadi bagian dari keluargaku, aku tetap menganggap Mopi sebagai sahabatku
yang sangat setia. Kepatuhannya itu membuat aku sangat sayang padanya.
Tapi
semua itu tidak berlangsung lama. Kami berpisah seumur hidup sebab keemosianku
yang tidak pernah terkontrol sejak aku tahu kedua orang tuaku cerai.
Aku
mengajak pangeran kecilku bermain di halaman rumah. Aku menghadiahkannya mobil-mobilan
yang bisa digerakkan dengan sekali dorong tanpa remot. Saat itu Mopi sedang
memperhatikan kami dari jarak jauh. Lalu istriku dari dalam dapur berteriak
memanggil namaku. Dia membutuhkan pertolonganku untuk membetulkan sesuatu. Aku
meminta Mopi untuk menjaga pangeran kecilku. Mopi hanya mengibas-ngibas ekor
panjang berbulu lebatnya saja saat mengiyakan perintahku.
Sepuluh
menit dari dalam dapur, aku mendengar anakku menangis histeris. Aku dan istriku
sama-sama terkejut. Lalu kami berlari dan keluar dari dapur. Saat aku menemukan
anakku, aku melihat darah berlumur di sekitar tubuh anakku. Mopi ada di samping
pangeranku dan mulutnya juga tengah berlumur darah. Tanpa berpikir apa
sebenarnya yang telah terjadi, aku langsung mengambil sapu gagang yang ada di
dekat pintu. Yang ada dalam otak kotorku, bahwa Mopi telah menggigit anakku
sampai berdarah. Aku melibas Mopi dengan sapu itu dan menyuruhnya untuk pergi.
Istriku menangis dan mencoba mengambil anakku. Tapi saat dilihatnya emosiku
telah meledak dan bersikap sadis pada Mopi, dia malah meninggalkan anakku
menangis dan menyuruhku agar menghentikan sikap brutalku pada Mopi.
Aku
tidak perduli dan tetap memukul Mopi sampai dia benar-benar pergi. Mopi
mengaing kuat dan melolong lalu pergi. Dia benar-benar sangat ketakutan.
Setelah dia pergi, aku merasa cukup puas. Tapi tidak dengan istriku. Tatapannya
bengis dan sangat membenciku. Dia lalu menggendong anak kami dan berkata,
“Sampai
kapan kau berlaku kasar seperti itu? Semua orang akan mati termasuk aku dan anakmu
bila kau tidak juga menghentikan emosimu yang tidak pernah terkontrol. Kau
lihat! Anjingmu itu telah menyelamatkan anakmu dari gigitan ular itu!”
Lalu
istriku masuk bersama anakku ke dalam rumah. Aku melihat seekor ular tidak
berdaya di dekat kursi tempat aku duduk bersama pangeran kecilku tadi. Ular itu
sudah mati dan masih berlumur darah. Aku syok! Persendianku langsung lemas. Aku
seperti tidak memijak tanah bumi. Aku benar-benar terpukul dan rasanya ingin
mati.
Menyesal.
Mopi
tidak kembali sampai malam tiba. Aku pikir dia akan pulang sendiri setelah dia
pikir bahwa semua akan baik-baik saja. Pukul sepuluh malam aku mencarinya di
luar rumah. Aku tidak menemukan dia. Aku sudah bertanya pada tetangga dan tidak
satu pun ada yang tahu Mopi pergi ke mana. Aku menangis. Benar-benar sangat
menyesal. Ini adalah yang kedua kalinya aku telah menyakiti Mopi setelah aku
membuat kepalanya berdarah. Mungkin bagi Mopi dia akan lebih nyaman hidup
ketika dia masih tergeletak kaku di dekat gerbong kereta. Apalah artinya dia
aku pungut bila kenyataan aku selalu membuatnya tersiksa dan sakit.
Istriku
tidak perduli Mopi ada di mana. Satu minggu Mopi tidak pulang dan selama satu
minggu pula istriku terlihat dingin dan seperti membenciku. Dia sangat malas
ngobrol padaku. Tapi aku lebih tidak perduli lagi dan tetap mencari Mopi.
Aku
pergi ketika pertama kali aku menemukan Mopi di dekat gerbong butut. Hati
kecilku yang menggerakkan langkahku untuk pergi ke sana. Dugaanku benar. Aku
melihat Mopi tengah tertidur malas di dekat gerbong yang sama. Stasiun agak
ramai. Beberapa orang menunggu kereta datang untuk pergi. Aku menyeru nama
Mopi. Mendengar suaraku, Mopi langsung bangkit dan menggonggong sekali. Dia
melihat aku dan berusaha mengejar aku. Betapa tidak senangnya hatiku?
Tapi
kesenangan itu hanya sesaat. Saat Mopi berlari, sebuah kereta datang dari arah
selatan. Mopi berlari di atas rel yang kereta itu akan lewat di atasnya. Aku
menjerit sekuat mungkin agar Mopi menghindar. Mopi tidak perduli dan terus
menggonggong sambil mengejarku. Semua orang melihat kami dan merasakan cemas
yang sama.
Satu
hal yang tidak dapat dielakkan adalah kematian. Suara gonggongan Mopi menyatu
dengan suara trompet kereta. Semua orang berteriak dan memekikkan kata ‘tidak’
dan ‘awas’. Aku yang lebih syok lagi ketika melihat Mopi terseret kereta. Tidak
satu orang pun yang dapat mencegah. Suara teriakan hilang ketika kereta
berhenti di dekat kantor statsiun. Aku berjalan gontai mendekati di mana tubuh
Mopi berhenti terseret. Semua orang berlari dan mendahuluiku.
Pikiranku
mati. Aku menyuruh beberapa orang agar menghindar dan memberi aku masuk di
antara kerumunan. Sesampai di depan tubuh Mopi, aku berlutut. Orang-orang
bingung melihat aku. Mopi berdarah. Beberapa anggota tubuhnya hilang. Aku
menangis. Lalu kuambil Mopi. Orang-orang mulai berbisik. Betapa kejamnya aku,
betapa tidak adilnya aku. Aku tidak tahu entah harus berkata apa. Aku seperti
orang gila. Lalu kupeluk tubuh Mopi yang berdarah seerat-eratnya. Kemudian aku
menjerit sekeras-kerasnya. Aku seperti anak kecil yang jatuh dari atas pohon.
Beginikah cara aku membina persahabatan dari kesetiaan Mopi untukku?
Tidak!
Aku
masih menjerit sekuat-kuatnya dan masih menangis sekeras-kerasnya.***
Kamar
Gadis, 15-09-2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar